Pamit Melayat Wanita Ini Justru 'Ngamar' di Hotel & Meninggal Saat Berhubungan Intim, Ditinggal Kabur Oleh Selingkuhannya!


Seorang wanita bernama Sartimah warga Desa Windunegara, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, ditemukan meninggal dunia di kamar nomor 10, Hotel Pelita, Banyumas, pada Minggu sekitar pukul 13.00 WIB.

Melansir Tribun Jateng, Sartimah sebelumnya telah berpamitan kepada keluarganya untuk pergi ke Kecamatan Ajibarang untuk melayat pada pukul 07.00 WIB.

Kenyataannya, wanita 50 tahun itu justru pergi ke hotel bersama pria yang merupakan selingkuhannya.

Lelaki selingkuhannya bernama Sunarto (47), seorang warga Desa Tamansari, Kecamatan Karangwelas, Kabupaten Banyumas.

Pasangan yang berselingkuh ini sengaja pergi ke Hotel Pelita untuk berhubungan intim.

Namun ketika sedang berhubungan intim, tetiba Sartimah pingsan dengan napas tersengal-sengal.

Setelah diperiksa oleh Sunarto ternyata selingkuhannya itu sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

Bukannya memanggil tenaga medis, Sunarto justru kabur sambil membawa benda berharga milik Sartimah.

"Pria yang juga pasangan selingkuhan korban akhirnya memilih kabur.

Sebelum meninggalkan korban, tersangka justru malah mengambil barang-barang berharga korban.

Ada dua buah gelang emas, dompet warna biru tua berisi uang senilai Rp 831.300," ujar Kasat Reskrim Polres Banyumas AKP Gede Yoga Sanjaya kepada Tribun Jateng.

Kemudian Sat Reskrim Polres Banyumas langsung melakukan oleh TKP dan membawa jenazah Sartimah ke RS Margono, Purwokerto, untuk diautopsi.

Hasil autopsi yang dilakukan oleh dr Zaenuri menyatakan bahwa wanita tersebut meninggal karena serangan jantung.

Tersangka Sunarto setelah ditangkap mengaku mengetahui jika korban mengetahui riwayat penyakit jantung.

Sebelum pergi meninggalkan jenazah selingkuhannya, Sunarto telah lebih dulu membuat surat keterangan berisi penyebab meninggalnya Sartimah.

"Maaf anter aku Windunegara Wangon, bukan pembunuhan, maaf serangan jantung, trims," tulis Sunarto pada secarik kertas.

Berkaitan dengan hal ini, sudah menjadi mitos di masyarakat tentang seorang pengidap penyakit jantung dianjurkan untuk tidak terlalu sering bercinta.

Sebab saat berhubungan intim, jantung berdetak lebih kencang sehingga bisa menyebabkan seorang pengidap penyakit jantung terkena serangan jantung.

Faktanya, berdasarkan penelitian yang diterbitkan oleh journal of the American Medical Association, berhubungan intim memang dapat memicu serangan jantung namun kemungkinannya sangat rendah.

Bahkan kemungkinan tersebut kurang dari 1% risiko serangan jantung yang disebabkan oleh aktivitas seksual dibandingkan dengan aktivitas menggunakan tenaga fisik yang lebih berat.

Melansir Kompas.com (16/11/2017), sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology edisi November mendapati beberapa termuan mengenai hubungan intim dan serangan jantung ini.

Para periset mempelajari 4.557 kasus serangan jantung yang dilaporkan di Portland, Oregon, dari tahun 2002 sampai 2015.

Mereka kemudian mengidentifikasi kasus mana yang berhubungan dengan seks, yakni yang terjadi dalam kurun waktu satu jam usai melakukan aktivitas seksual.

Hasilnya didapati bahwa dari semua kasus serangan jantung, hanya 34 kasus, atau 0,7%, yang terkait dengan seks.

Dan dari 34 kasus tersebut, 32 kejadian dialami laki-laki.

Studi tersebut juga menemukan bahwa 94% dari semua kasus serangan jantung terjadi pada pria yang memang sudah memiliki riwayat penyakit jantung.

Dr. Sumeet Chugh, pemimpin riset dan profesor di Cedars-Sinai Heart Institute, Los Angeles, mengatakan bahwa besarnya jumlah orang yang diteliti memperkuat keabsahan temuan tersebut.

Riset serupa kebanyakan hanya meneliti 5.000 sampai 10.000 orang.

"Melihat hasil riset ini, bisa disebutkan bahwa aktivitas seksual bukanlah penyebab atau pemicu utama terjadinya serangan jantung," papar Dr. Sumeet Chugh.

Sedangkan jika pada kasus pasangan selingkuh ini belum diketahui pasti apakah serangan jantung yang dialami Sartimah akibat dari hubungan seksualnya dengan Sunarto atau tidak.

Pada akhirnya Sunarto ditangkap dan dianggap telah melakukan tindak pencurian dan atau meninggalkan orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

Sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 362 dan atau 531 KUHP.